Fatawisata

Merenda Cinta dan Rindu di Museum Nabi Muhammad

Kenangan.

Tentu kita semua sepakat bahwa kata di atas berkorelasi dengan segala hal (terutama yang indah-indah) yang pernah kita alami di masa lalu.

Tapi pernahkah kita seolah-olah memiliki/merasakan kenangan akan sesuatu/seseorang padahal kita belum pernah mengalami atau bertemu dengannya?

Itulah yang saya rasakan pada saat berada di Museum Nabi Muhammad di Madinah, museum yang terletak tepat di sebelah kanan (bila kita masuk dari arah depan) Masjid Nabawi, bersebelahan dengan Museum Asma’ul Husna.

Meskipun di dalamnya tidak terdapat benda-benda peninggalan Rasulullah (pedang, pakaian perang, bekas tapak kaki, rambut jenggot, rambut kumis, dan sebagainya) seperti di beberapa museum yang lain, namun museum/galeri ini terasa sangat istimewa.
Begitu masuk ke dalamnya seakan-akan kita dibawa menjelajah ke zaman dan tempat dimana Rasulullah berada bersama para sahabat dan keluarga beliau.

Rahmat Bagi Seluruh Alam

Penggambaran yang sangat detail berdasarkan ayat-ayat Al Qur’an dan hadits yang terpampang di seluruh dinding, tiang-tiang, layar, disertai beberapa replika, membuat kita benar-benar merasa menjadi bagian dari masa itu dan mengalami saat-saat indah bersama Rasulullah, insan mulia, rahmat bagi semesta alam;

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam” (Surat Al-Anbiya’: 107)

“Katakanlah (Muhammad), ‘Wahai manusia! Sesungguhnya aku ini utusan Allah bagi kamu semua, Yang memiliki kerajaan langit dan bumi; tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, (yaitu) Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya). Ikutilah dia, agar kamu mendapat petunjuk’.” (Surat Al-A’raf: 158)

“Ya Tuhan kami, utuslah di tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, dan mengajarkan Kitab dan Hikmah kepada mereka, dan menyucikan mereka. Sungguh, Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (Surat Al-Baqarah: 129)
“Dan (Ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata, ‘Wahai Bani Israil! Sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu, yang membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan seorang rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).’ Namun ketika Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, ‘Ini adalah sihir yang nyata.'” (Surat Ash-Shaf: 6)

Ketampanan dan Kebajikannya

Di salah satu bagian ruangan dilukiskan postur tubuh dan akhlak Rasulullah yang sempurna, seakan-akan sosok mulia itu hadir di hadapan kita;

Ummu Ma’bad al-Khuza’iyyah berkata tentang diri Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam, menjelaskan bentuk fisik beliau kepada suaminya, ketika beliau melewati kemahnya pada saat hijrah, “Beliau terlihat sangat tampan, berwajah cerah, bagus bentuk fisiknya, badannya ramping, kepalanya tegak, tampan. Kedua matanya lebar dan hitam, bulu matanya lentik, suaranya agak parau, lehernya jenjang, matanya tajam dan gelap, kedua alisnya bak bulan sabit dan bersambung, rambutnya sangat hitam, apabila diam terpancar darinya kewibawaan, apabila berbicara terlihat akrab, dari kejauhan beliau adalah orang yang paling tampan dan paling elok, dari dekat beliau adalah orang yang paling bagus dan paling manis. Tutur katanya manis dan berharga, tidak pendek dan tidak panjang. Perkataannya lembut bagaikan mutiara yang tertata rapi, tinggi badannya sedang, mata yang memandangnya tidak akan mencibir karena posturnya yang pendek dan tidak pula mencelanya karena posturnya yang tinggi. Beliau bagaikan dahan di antara dua dahan, paling tampak di antara tiga orang, dan paling tinggi kedudukannya, beliau memiliki teman-teman yang selalu mengelilinginya, apabila beliau berbicara, mereka mendengarkan perkataannya, apabila memerintahkan sesuatu, mereka bergegas untuk melaksanakannya. Beliau adalah sosok yang ditaati dan disegani, tidak pernah bermuka masam dan tidak pernah mencela seseorang.” (Zadul Ma’ad).

Rasulullah diistimewakan dengan kefasihan lisannya, keindahan retorikanya, hal itu merupakan letak keutamaannya, dan sesuatu yang telah dikenal, berperangai luwes, jelas lafazhnya, ringkas bicaranya, benar maknanya, tanpa dibuat-buat.

Penyantun, sabar, pemaaf di saat mampu membalas, dan sabar pada saat tertimpa musibah, merupakan sifat-sifat yang ditanamkan Allah kepadanya. Setiap orang yang penyantun pasti mempunyai kesalahan dan kekeliruan, berbeda dengan Rasulullah, semakin banyak gangguan yang dihadapinya, semakin bertambah kesabaran beliau, dan tidak ada kesalahan orang bodoh yang tertuju padanya kecuali menambah kemurahan hati beliau.

Mengelola Waktu

Di bagian lain diceritakan mengenai aktifitas harian Rasulullah, sangat detail dan berurutan. Beberapa diantaranya adalah;

Rasulullah kadang-kadang mengunjungi kebun-kebun, taman-taman, dan peternakan di sekitar Madinah untuk beristirahat dan menikmati pemandangan.

Pada setiap Sabtu pagi menjelang siang, baik dengan berjalan kaki atau berkuda, Rasulullah mengunjungi Masjid Al Qubaa’ untuk melaksanakan sholat (sunnah) di sana.
Pada tengah malam atau sesaat sebelum itu, Rasulullah bangun, berwudhu, dan berdiri untuk melaksanakan sholat tahajud.

Terlihat jelas bahwa betapa Rasulullah memberikan teladan yang indah kepada kita tentang bagaimana mengelola/memanfaatkan waktu dengan optimal dan menjalani kehidupan dengan seimbang, baik untuk beribadah maupun bermuamalah.

Kesederhanaan

Gambaran aktivitas sehari-hari Rasulullah semakin diperjelas dengan adanya maket yang menggambarkan letak rumah Rasulullah dan para istri beliau yang berdekatan dengan Masjid Nabawi, replika bentuk rumah Rasulullah, juga denah wilayah Madinah pada masa itu;
Sungguh, imajinasi langsung melayang, membayangkan sosok mulia nan tampan itu melaksanakan berbagai kegiatan di rumah yang sederhana, membagi waktu untuk para istri beliau, memberi teladan baik untuk para sahabatnya (dan tentu saja untuk kita semua), berdagang, dan berdakwah ke berbagai wilayah yang tergambarkan sangat gersang dan tandus, di bawah terik matahari Kota Madinah.

Kitalah yang Dirindukannya

Sahabat, sadarkah kita betapa Rasulullah sangat mencintai dan merindukan kita?
“Rasulullah berkata: ‘Aku berharap dapat bertemu saudara-saudaraku!’. Para sahabat yang sedang bersama beliau bertanya: ‘Bukankah kami ini saudaramu?’. Rasulullah menjawab: ‘Kalian adalah sahabatku. Saudara-saudaraku adalah mereka yang beriman kepadaku meskipun belum pernah melihat aku’.” (HR. Ahmad)
Betapa malunya kita yang hanya sedikit mengingat Rasulullah, sementara beliau sangat merindukan dan ingin bertemu kita, saudara-saudaranya.

Rasulullah juga senantiasa berdoa dan memohon kepada Allah agar mengampuni dosa orang-orang yang berimman;
“Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.” (Surat At-Taubah: 128)

Wafatnya Rasulullah

Rasulullah wafat pada usia 63 tahun. Menjelang dan setelah wafatnya beliau, para sahabat dan keluarganya merasakan kesedihan yang sangat mendalam;
Fathimah melihat penderitaan berat yang tengah dialami Rasulullah, maka ia berkata, “Betapa menderitanya engkau, wahai ayahku.” Nabi Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam berkata, “Tidak ada cobaan lagi yang akan menimpa ayahmu setelah hari ini.” (Shahih al-Bukhari).

Dalam Shahih al-Bukhari pada bab Maradhun Nabi diriwayatkan:
… Tak berapa lama selesai bersiwak, Rasulullah mengangkat tangan atau jarinya dan menatapkan pandangannya ke atap, kedua bibirnya bergerak, dan Aisyah mendengarkannya, Beliau berkata, “Bersama-sama dengan orang-orang yang telah Engkau anugerahi nikmat, yaitu: para nabi, ash-shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Ya Allah, ampunilah aku dan kasihanilah aku, pertemukan aku dengan Kekasih Yang Mahatinggi, ya Allah Kekasih Yang Mahatinggi.” Beliau mengulangi kalimat yang terakhir ini tiga kali, kemudian tangannya miring dan beliau pun akhirnya berjumpa dengan kekasih Yang Mahatinggi, Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun.
Abu Bakar datang dengan menunggang kuda dari tempat tinggalnya di kampung Sanah, kemudian ia turun dan masuk ke dalam masjid, ia tidak berbicara kepada mereka yang hadir, hingga masuk ke bilik Aisyah dan menuju ke tempat Rasulullah yang sedang ditutupi kain lebar. Abu Bakar membuka wajahnya, kemudian menundukkan kepalanya, lalu menciumnya dan menangis. Selanjutnya ia berkata, “Ayah dan ibuku sebagai tebusan bagimu, Allah tidak akan menyatukan padamu dua kematian, ada pun kematian yang telah ditetapkan oleh Allah atasmu telah engkau alami.”

Kemudian Abu Bakar keluar, sedangkan Umar tengah berbicara dengan orang-orang yang hadir di masjid, Abu Bakar berkata, “Duduklah wahai Umar!” Akan tetapi Umar tidak mau duduk, Kemudian Abu Bakar membaca kalimat syahadat, sehingga orang-orang datang mengerumuninya dan meninggalkan Umar. Abu Bakar berkata, “Amma ba’du, barangsiapa di antara kalian yang menyembah Muhammad Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam, maka sesungghunya beliau telah mati, dan barangsiapa di antara kalian yang menyembah Allah, sesungguhnya Allah itu Mahahidup dan tidak akan mati. Allah berfirman, “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika ia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)?, Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka Ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (Surat Ali Imran: 144).

Ibnu Abbas berkata, “Demi Allah, sungguh seakan-akan para sahabat saat itu tidak mengetahui bahwa Allah telah menurunkan ayat ini, kecuali setelah Abu Bakar membacanya, kemudian semua orang mendengarnya dari Abu Bakar, dan aku tidak mendengar seorang pun dari manusia, kecuali ia membacanya.

Ibnu Musayyib berkata, Umar berkata, “Demi Allah! Tidaklah aku mendengar Abu Bakar membacanya, kecuali aku tercengang hingga kedua kakiku tak mampu lagi menyanggaku, kemudian aku terjatuh ke tanah pada saat ia membacanya, pada saat itu baru aku menyadari bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam telah wafat.”
(Shahih al-Bukhari).
Anas berkata, “Aku tidak mendapatkan hari yang lebih indah dan lebih bercahaya dari pada hari di kala Rasulullah memasuki kota Madinah, dan aku tidak pernah menemukan hari yang lebih buruk dan lebih gelap dari pada hari ketika Rasulullah wafat.” (DIriwayatkan oleh ad-Darimi, Misykatul Mashabih).
*****
Assalaamu’alaika ya Rasuulallaahi wa rahmatullahi wa barakaatuhu
Assalaamu’alaika yaa nabiyyallaahi.
Assalaamu’alaika yaa shafwatallaahi.
Assalaamu’alaika yaa habiiballaahi.

Selamat sejahtera atasmu wahai Rasulullah, rahmat Allah dan berkah-Nya untukmu.
Selamat sejahtera atasmu wahai Nabiullah.
Selamat sejahtera atasmu wahai makhluk pilihan Allah.
Selamat sejahtera atasmu wahai kekasih Allah.
*****

Sahabat, cinta dan rindu itu semakin menguat, begitu dahsyat, mengingat sosok Sang Teladan, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam, betapa inginnya Beliau bertemu dengan kita, saudara-saudara yang dirindukannya, yang tak pernah bertemu namun beriman kepada beliau.
Pantaskah kita?

* Maafkan saya bila tulisan ini jauh dari sempurna dengan dokumentasi yang sangat terbatas, karena saya hanya mampu tertegun, termangu, dan berlinang air mata …

– Bekasi, 14 Syawal 1436 H –

*****

Referensi:
Al-Qur’anul Karim & Terjemahnya – Edisi Doa, Cicero Publishing, Jakarta, 2010.
Perjalanan Hidup Rasul yang Agung, Muhammad – Dari Kelahiran Hingga Detik-detik Terakhir, Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfury, Darul Haq, Jakarta, 2005.
Doa Manasik & Ziarah, AdZikra, Jakarta.

sumber : endahwidowati.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *